Kasus DBD Kota Pekanbaru Turun 2 Kali Lipat Di Tahun 2023
Sebagai negara yang beriklim tropis,
Indonesia telah menjadi tempat yang ideal bagi nyamuk untuk tinggal serta
berkembang biak, terutama ketika musim penghujan datang. Populasi nyamuk akan ikut
bertambah lebih banyak dibandingkan sebelum datangnya musim hujan. Curah hujan
yang sangat tinggi merupakan faktor penyebab mengapa populasi nyamuk menjadi
sangat banyak.
Disamping bencana alam seperti banjir
ataupun tanah longsor yang kerap terjadi akibat datangnya musim penghujan dan
menjadi persoalan tiap tahunnya di Indonesia, berbagai macam penyakit juga ikut
menghantui masyarakat di Indonesia, salah satunya Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit
ini bersumber dari empat jenis virus dengue, yaitu: DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh
nyamuk Aedes aegepti yang membawa virus dengue lalu menularkannya kepada
manusia. Akibatnya mereka yang terkena gigitan nyamuk tersebut menderita demam
tinggi, nyeri otot, ruam merah di kulit, muntah, hingga berakhir dengan
kematian. Sehingga tak heran mengapa Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi
salah satu masalah kesehatan di Indonesia.
Pada tahun 2022 Kementerian Kesehatan mencatat
143.266 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan jumlah kematian di tahun yang
sama berjumlah 1.237 orang. Sedangkan di tahun sebelumya jumlah kasus Demam
Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia berjumlah 73.518 kasus dengan jumlah
kematian sebanyak 705 orang. Artinya adanya peningkatan jumlah kasus dan
kematian yang disebabkan oleh Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun tersebut. Adapun
di tahun 2023, Kementerian Kesehatan hingga saat ini mencatat 31.380 kasus Demam
Berdarah Dengue (DBD) dengan jumlah kematian sebanyak 246 orang.
Untuk di Provinsi Riau sendiri khususnya
Kota Pekanbaru, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di tahun 2022 merupakan yang
paling banyak di Riau dengan berjumlah 763 kasus, diikuti Kampar 223 kasus,
Rokan Hulu 209 kasus, dan Dumai 160 kasus. Meski demikian tren positif dialami
Pekanbaru terkait kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal itu berdasarkan
catatan temuan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Pekanbaru dari awal januari
hingga pekan ke-18 tahun 2023 yang mengalami jumlah penurunan kasus dibandingkan
awal januari hingga pekan ke-18 tahun 2022 lalu. Di bulan Mei pada pekan ke-18
tahun ini jumlah kasus hanya berjumlah 134, sementara pada bulan dan pekan yang
sama di tahun 2022 kasus DBD mencapai 338, yang mana artinya kasus tersebut berjumlah
2 kali lipat lebih banyak dari tahun sekarang.
“ya Alhamdulillah, bersyukur tentunya, dengan catatan kasus DBD tidak sebanyak yang terjadi di bulan Mei tahun lalu, jadi ada progress lah yang mengarah kepada hal yang positif, dan semoga jumlah tersebut nantinya tidak bertambah lagi” ungkap rasa syukur seorang mahasiswa UIN SUSKA RIAU asal Pekanbaru yang biasa dipanggil Ferry ini.
KEBIASAAN YANG MENINGKATKAN POPULASI NYAMUK
DBD
Hujan deras yang mengguyur seharian penuh akan
meninggalkan genangan-genangan air di berbagai tempat, seperti lubang pohon,
pelepah daun hingga sampah-sampah berupa kaleng atau botol plastik bekas yang
mampu menampung air sisa-sisa hujan. Kebiasaan masyarakat kita yang masih membuang
sampah sembarangan beresiko meningkatkan populasai nyamuk DBD. Sebab genangan
air hujan yang tertampung ke dalam botol plastik atau kaleng tadi memungkinkan
nyamuk berkembang biak.
“saya pernah melihat orang yang ketika botol
bekas minumnya sudah habis lalu seenaknya saja begitu dibuang secara sembarangan,
terkadang ini membuat saya jengkel, ya tapi begitulah Indonesia” ucap Ferry.
Ferry juga menyebut masyarakat Indonesia nampaknya
masih belum sadar akan lingkungannya, padahal dampak yang timbul nantinya juga
merugikan dia sendiri. Perilaku senderhana seperti membuang sampah mestinya
perlu dirubah yaitu melalui kesadaran kita masing-masing individu untuk lebih
peduli terhadap lingkungan serta dampak yang ditimbulkan.
Kebiasaan lain seperti menggantung baju di
kamar bisa menjadi pemicu DBD. Baju yang digantung di kamar bisa menjadi sarang
bagi nyamuk sekaligus sebagai tempat beristirahat, karena nyamuk menyukai
tempat yang gelap.
“aku sering sih habis pulang kuliah, karna
seharian beraktivitas kan pasti capek ya jadinya cuma aku gantung di pintu
kamar” ucap salah seorang mahasiswa yang bernama Althaf Ditto.
Menghindari kebiasaan sederhana menggantung baju di kamar mestinya dapat dikurangi, maka dari itu, perlunya membersihkan rumah dan kamar secara berkala sebagai bentuk upaya dalam menekan populasi nyamuk DBD yaitu Aedes aeghypti.
MENERAPKAN 3 M PLUS
Keberhasilan pemerintah dalam menekan angka
kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tentu juga didukung oleh masyarakat yang
selalu peduli akan Kesehatan dirinya. Dengan menjaga kebersihan lingkungan
sekitar serta menerapkan gerakan 3 M akan sangat membantu pemerintah mengurangi
kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Adapun
gerakan 3 M tersebut yaitu: menguras, menutup, dan menyingkirkan. Menguras,
ini dapat dilakukan dengan cara menguras bak penampungan air, sebab nyamuk
Aedes aegepti memiliki telur yang menempel cukup kuat di dinding penampungan
air. Dengan ini mampu menghambat perkembang biakan nyamuk.
Menutup, dalam hal ini barang apa pun baik itu
wadah yang berisi air, dan berkemungkinan dapat menjadi tempat penampungan air
semuanya harus ditutup. Penutupan dilakukan guna nyamuk tidak bertelur dan
berkembang biak pada tempat yang berisi air tersebut.
Menyingkirkan,
barang-barang yang tidak lagi dibutuhkan atau kaleng bekas yang tidak berguna
yang berpotensi menampung air bekas hujan, maka disingkirkan, atau lebih baik diolah,
didaur ulang sehingga bernilai ekonomis.
Tidak
hanya lewat 3 M, pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) juga perlu dilakukan
dengan cara menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air. Dengan melakukan
pencegahan-pencegahan tersebut angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat
dikendalikan.




Tidak ada komentar